Universitas Semarang

Gelar Seminar Tentang Pancasila, USM Hadirkan Prof Muladi, Kapolda dan Mahfud MD

Saiful Hadi | 17 March 2019

SEMARANG- Universitas Semarang (USM) kali ini menggelar Seminar Nasional dengan tema Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Millenial di Aula gedung V Lantai 6 USM pada Sabtu (16/3).

Rektor USM Andy Kridasusila SE MM  menyambut gembira seminar ini karena selain dihadiri para tokoh yang menjadi pembicara dan seminar ini juga dihadiri 550  peserta  yang teridir  berbagai lapisan masyarakat baik dari para Kapolres Se-Jateng, para Rektor dan Wakil Rektor III dan para mahasiswa.

Selain seminar USM juga melakukan  penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara USM dengan Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) Komisarit Jawa Tengah.

Dalam sambutanyya Andy menyampaikan bahwa USM berkomitmen akan melakukan investasi untuk generasi muda yang akan berperan dalam aktivitas keseharian dimanapun berada, dengan itu perguruan tinggi merupakan salah satu upaya dalam mencerdaskan anak bangsa sehingga harus ikut mengawal karena kemajuan suatu bangsa tergantung dengan generasi mudanya.
Dalam acara ini Direktur Kemahasiswaan, Ditjen Belmawa Kemenristekdikti  Dr Didin Wahidin MPd sebagai keynote speaker sekaligus membuka acara seminar dengan pemukulan gong.

Didin mengaku bersama-sama mengusung ideologi bangsa yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alenia 4 yang berbunyi ikut melaksanakan ketertiban dunia. Apapun kegiatan yang dilakukan harus didasarkan selalu ingin menyatukan diri merupakan hakekat melakukan kontribusi nyata.

Ada tiga tokoh yang menjadi narasumber dalam acara seminar ini antara lain  Prof Dr Mohammad Mahfud MD SH SU (Anggota Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila)), Prof Dr H Muladi SH (Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip dan Pndiri USM), serta Irjen Pol Drs Condro Kirono MM M Hum (Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah) yang ketiganya  dipandu oleh moderator Yosep Parera SH MH.

Mahfud MD menyampaikan bahwa sekarang banyak masalah kompleksitas ideologi Pancasila di era millenial, untuk menyikapi hal tersebut jika menerima informasi tidak boleh langsung diterima, tetapi dikritisi dan harus selektif sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila sebagai tempat kembali.

 ”Indonesi nerupakan satu-satunya negara yang memperoleh  kemerdekaan  sendiri dengan cara berjuang dan mengusir penjajah bukan dari hadiah negara lain atau penjajah” tambahnya.

Mahfud juga memotivasi peserta bahwa Indonesia dengan ideologi Pancasila menolak radikalisme dan fanatisme karena Pancasila bukan untuk ini dan itu tetapi untuk kita semua dalam kemajemukan bangsa Indonesia.

Sementara Kapolda Jateng Irjen Pol Drs Condro Kirono MM M Hum menyampaikan materi  terkait praktek yang berkaitan dengan tugas kepolisian di era milenial. Hal ini diaplikasikan dengan  penangkapan simpatisan ISIS yang ingin mengubah ideologi Pancasila. Menurutnya  ideologi Pancasila ini tidak dibuat akhir-akhir ini  melainkan sudah ada sejak dahulu sehingga Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa.

"Bahwa tugas dari aparatur adalah mengayomi dan melindungi serta bekerjasama dengan komunitas  dan melalui pendekatan masyarakat sehingga dapat menyentuh jiwa masyaraakat dan saling ikut menjaga". tambahnya

Adapun Prof Dr H Muladi SH mengaku bahwa Kompleksitas ideologi bangsa selalu mengandung indikator tentag makna antar hubugan nilai-nilai sosial budaya dalam suatu negaara yang akan meempengaruhi cara berfikir secara keseluruhan dalam mengelola suatu negara, termasuk pendekatan sistem yang harus dilakukan secara komprehensif integral untuk mencapai efek positif maksimal yang diharapkan.