Universitas Semarang

Kemenristek Dikti Tekankan Kesiapan dalam Revolusi Industri 4.0

Saiful Hadi | 12 July 2018

SEMARANG- Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kemenristek Dikti Dr Totok Prasetyo B Eng MT menyampaikan beberapa hal terkait dengan kondisi Perguruan Tinggi saat ini. Dapat  diketahui bahwa sejumlah 4.529 Perguruan Tinggi di Indonesia, namun memiliki nilai APK rendah sebesar 31,5 %. 

Hal ini disampaikan Totok pada Sarasehan Standar Instrumen Akreditasi dan Nomenklatur Program Studi di Aula Gedung V Lantai 6 Universitas Semarang (USM) pada Kamis (12/7).

Karena itu menurut Totok, Kemenristek Dikti sangat menekankan pada peningkatan mutu Perguruan Tinggi sebagai prioritas pertama dari rencana strategis Dikti tahun 2015-2019.

“Kami sangat mendorong agar seluruh pengelola Perguruan Tinggi harus lebih kreatif dalam membuka Program Studi. Pasalnya, akan berpengaruh terhadap Revolusi Industri 4.0 sebagai cyber physical systems,  dimana hal tersebut mensyaratkan dosen serta mahasiswa untuk mudah beradabtasi terhadap perubahan itu baik kurikulumnya, pembelajarannya dan semuanya” ungkapnya.

“Selain itu, perlunya mempelajari literasi baru juga harus dilakukan dalam Perguruan Tinggi dalam rangka kesiapannya yang matang menghadapi Revolusi Industry 4.0” lanjut Totok.

Adapun acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Paguyuban Pimpinan Bidang Akademik PTS (PPBA-PTS) Kopertis VI Jawa Tengah dihadiri 120 para pengelola bidang akademik dari 70 PTS di Wilayah VI Jawa Tengah yang terdiri atas 3 Rayon (Semarang, Solo, Purwokerto).

Sementara narasumber lain, Prof Drs T Basarudin M Sc Ph D, Direktur Eksekutif BAN-PT yang menyampaikan mengenai Intrumen Akreditasi BAN-PT terbaru dengan dimoderatori oleh Dr Dra Peni Pujiastuti M Si.

“Nantinya dari tujuh kriteria akan dirubah menjadi sembilan kriteria dalam instrumen baru. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan instrumen lama, namun instrumen baru ini memudahkan interaksi antar kriteria” terang Prof Can panggilan akrabnya.

“Bagi APT mulai 1 Oktober depan sudah mulai menggunakan intrumen baru, sedangkan APS rencana peluncuran akhir Juli dan diperkirakan mulai 1 Januari mendatang akan digunakan. Dan akan diberlakukan 100% pada tahun 2021” tambahnya.

Sementara itu, berhubungan dengan yang disampaikan Direktur Kelembagaan Dikti, Prof Can menambahkan, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 juga mengakibatkan adanya perubahan paradigm dalam penilaian akreditasi dimana harus diikuti oleh perubahan yang sama pada Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

“Beberapa yang harus dilakukan yakni orientasi output/outcomes perlu tracer study yang baik, standard masing-masing Perguruan Tinggi. Serta diperlukan system database” ungkap Prof Can.