Universitas Semarang

Peringati Hari Kependudukan Dunia, USM Gelar Seminar dan Jalin Kerjasama Dengan BKKBN

AYANG FITRIANTI, S.S. | 25 July 2019

 

Semarang – Demi pebangunan berkelanjutan yang baik, saat ini penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan subjek dan objek dalam pembangunan. Untuk itulah seminar kali ini USM bekerjasama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengangkat tema Keragaman Demografis dan Pembangunan Bekelanjutan di Auditorium Ir Widjatmoko, Universitas Semarang.

Sebelum acara seminar dimulai, USM melaksanakan penandatangan perjanjian kerjasama dengan BKKBN. Penandatangan kerjasama ini dilakukan oleh Rektor USM, Andy Kridasusila SE MM dengan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Wagino SH Msi.

Rektor USM mengatakan jika salah satu visi USM yaitu menghasilkan sumber daya insani yang profesional dengan keragaman demografis dan pembangunan di lingkungan sekitar, diharapkan generasi muda dapat bersinergi dengan segala kompetensi yang dimiliki. Semua masyarakat diminta bersama – sama bersatu demi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Setelah acara penandatanganan selesai, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus IPADI Kota Semarang dan keynote speech dari Deputi Budang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi sekaligus Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Republik Indonesia, Dr Ir Dwi Sulistyawardani.

Pada seminar ini dimoderatori oleh Dr Elen Puspitasari Msi dan dengan pembicara Dr Soedibyo Alimoeso MA selaku Ketua Umum IPADI bersama Dr Wyati Saddewisasi SE Msi.

Banyak sekali pesan yang disampaikan pembicara khususnya untuk para remaja. Para remaja saat ini dihimbau agar tidak melakukan pernikahan dini dan fokus terlebih dahulu terhadap pendidikan dan selanjutnya dalam bidang karir.

“Ketika berencana akan berkeluarga berarti harus berani bertanggungjawab dan berniat membahagiakan seutuhya. Bagaimana mungkin bila seorang anak yang tidak berpendidikan, mendidik anaknya sendiri,” ujar Dr Wyati Saddewisasi SE Msi.

Bila hal itu terjadi, pada akhirnya anggota keluarga buka menjadi modal pembangunan, tetapi menjadi beban pembangunan. Hal itulah yang disayangkan bila pernikahan terjadi di usia yang masih belia. (DS)