Universitas Semarang

Zonasi Tata Guna Lahan Diperlukan Untuk Kurangi Risiko Gempa

Saiful Hadi | 06 July 2019

SEMARANG- Melihat potensi gempa yang terjadi akhir-akhir ini diperlukan upaya penanganan termasuk dari segi konstruksi. Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil (HMJTS) Universitas Semarang (USM) menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Inovasi Konstruksi Tahan Gempa Berkelanjutan” di Auditorium Ir Widjatmoko (27/6).
Kegiatan yang diikuti 450 mahasiswa teknik sipil ini menghadirkan tiga narasumber yang ahli dalam bidangnya, Prof Dr Ir Sri Tujono MS (Guru Besar Teknik Sipil Undip), Mukhlis Sunarso ST MT( Manajer Pengembangan Produk PT Wijaya Karya Beton Pusat), Dr Ir Sudanti MS (Dosen Teknik Sipil USM), serta dihadirkan guess star Dinda Ayu Saraswati (Runner Up Miss Indonesia 2017).
Dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara, Wakil Dekan I Fakultas Teknik USM, Ir Bambang Tutuko MM mengatakan kegiatan ini salah satu bentuk upaya menambah motivasi mahasiswa teknik dalam memberikan kontribusi menangani bencana gempa. 
“Selain wawasan, dari kegiatan ini mahasiswa setidaknya bisa mengambil peran yang berhubungan dengan penanggulangan gempa sehingga mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa mampu berkiprah sesuai bidangnya” ujarnya.
“Dimungkinkan intensitas gempa semakin meningkat, oleh karena itu mahasiswa teknik seharusnya juga lebih termotivasi untuk memberikan kontribusi disini” imbuhnya.
Dalam materinya, Guru Besar Teknik Sipil Undip menyampaikan saat gempa besar struktur bangunan boleh rusak tapi tidak boleh runtuh (Keselamatan manusia). “Tidak boleh terjadi gagal pondasi. Pondasi harus lebih kuat dari kekuatan yang bekerja di dasar kolom, Realisasi struktur bangunan harus sesuai dengan desain tahan gempa, inilah perlunya pengawasan ketat” tuturnya. 
Sementara Sudanti memberikan ulasan mengenai tata guna lahan berbasis mitigasi bencana. “Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, Indonesia harus menghadapi risiko besar terhadap bencana gunung berapi, gempa bumi, banjir, dan tsunami. Selama 20 tahun terakhir, Indonesia telah menjadi berita global terjadinya bencana alam  hebat yang mengakibatkan kematian ratusan ribu manusia & hewan, dan memiliki efek destruktif pada area daratan (termasuk infrastruktur dan mengakibatkan biaya sosial & ekonomi) oleh karena itu perlunya penerapan Tata Guna Lahan (TGL) berbasis Mitigasi Bencana” katanya.
Sudanti mengatakan bahwa zonasi dalam tata ruang dan TGL sebaiknya berupa zona-zona berdasarkan tingkat potensi kerawanan bencana. “Untuk mewujudkan konsep dasar penataan ruang dan TGL berbasis mitigasi bencana geologi, perlu langkah-langkah kegiatan dan penyediaan data dasar geologi, terutama berkaitan dengan jenis dan potensi bencana geologi” tangkasnya.