Universitas Semarang

Bakti Pada Guru, Fakultas Psikologi USM berikan Pelatihan Kepada Guru BK

Saiful Hadi | 19 January 2021

SEMARANG-  Adanya masa pandemi dan ketatnya peraturan akan kegiatan pada masa PSBB tidaklah menyurutkan antusiasme untuk berbagi ilmu dan belajar.  Melalui kegiatan pengabdian yang bertemakan “Bakti bagi Guru”, Fakultas Psikologi Universitas Semarang (USM) mengadakan ajang promosi PMB yang dikemas dalam bentuk pelatihan bagi para guru BK se kota Semarang. 
Sejumlah 32 peserta guru mengikuti kegiatan yang diadakan secara daring, pada Jumat , 15 Januari 2021 tersebut.  Acara mendapatkan sambutan dari ibu Anik Purwati, S.Pd.,M.Pd dari SMA Negeri 4, sebagai perwakilan, mengatakan bahwa ajang kegiatan ini sangat menarik dan sangat dibutuhkan bagi guru.  

“Kami berharap, dengan adanya pelatihan ini, menjadikan guru semakin memahami dan tangguh dalam menghadapi situasi kegiatan belajar mengajar selama masa pandemi ini”, ungkapnya. 

Kegiatan yang dimoderatori oleh Wakil Dekan Fakultas Psikologi, Agung Santoso Pribadi, S.Psi., M.Psi ini menghadirkan narasumber yang berkualitas dalam bidang pendidikan. Adalah Maria Yuliana Wangge, S.Psi., M.Psi, Psikolog atau sering dipanggil bu Maya, sebagai narasumber yang memberikan materi berupa “Pelatihan Mengatasi Kejenuhan Belajar Daring” dan Cristine Roselvia Tri Amelia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, atau sering dipanggil kak Selvi, yang memberikan materi berupa “Pelatihan Relaksasi untuk Mengatasi Kecemasan”.  

Meskipun diadakan secara daring, antusiasme peserta tetaplah tinggi, hal ini tampak dari berbagai pertanyaan interaktif seperti; “ Bagaimana cara menangani siswa yang mengalami kejenuhan belajar dan juga sering tidak ikut pembelajaran padahal sudah diupayakan pula dengan homevisit dari pihak sekolah?”  yang dijawab oleh Bu Maya, bahwa untuk menangani situasi ini,guru bisa meminta bantuan kepada orangtua untuk dapat mengontrol kegiatan belajar selama di rumah dan membicarakan dari hati ke hati terkati dengan hal yang menyebabkan siswa kurang termotivasi supaya bisa dicari solusinya bersama. Selain itu juga penting untuk mengenali lingkungan di sekitar rumah siswa, hubungan dengan orangtua dan melakukan konseling baik yang ditujukan bagi siswa ataupun orangtua. 

Pertanyaan lain yang berkenaan dengan bagaimana indikator atau tanda dari suatu perasaan dikatakan cemas, dijawab oleh Kak Selvi bahwa terdapat dua ciri; yaitu ciri Fisiologis yang mana ditunjukkan dengan munculnya ketegagan otot leher, sakit kepala, jantung berdebar, dan bahkan ada mual serta muntah dan juga ciri Psikologis yang mana ketika mengalami kecemasan biasanya perasaan menjadi sensitif, seperti mudah tersinggung, gelisah, sulit berkonsentrasi, dan bahkan sulit tidur.

Pada akhir acara, sebagai penutupan dilakukan dua kegiatan simulasi atau praktik; yaitu melakukan apa yang disebut dengan Terapi Tawa yang  dipandu oleh bu Maya dan melakukan latihan relaksasi sederhana melalui pernapasan yang dipandu oleh Kak Selvi. Berbagai komentar positif dikirim oleh para peserta seperti Aisyah, S.Pd (SMAN 9) dan Beta Nur Betty, S.Pd (MAN 1 Semarang) yang mengatakan bahwa sebaiknya kegiatan serupa diadakan secara kontinyu sehingga semakin menambah ilmu, pengalaman, dan keterampilan guru. Demikian pula disampaikan oleh Dra. Umi Maratun (SMAN 4) bahwa kegiatan yang dilaksanakan menarik dan menyenangkan, namun di kesempatan lain akan lebih  menarik lagi jika dalam proses simulas praktik juga ditambah dengan suara atau musik dan video yang mendukung. Selain komentar juga ada beberapa usulan tema kegiatan seperti  yang diusulkan Susiati, S.Pd (SMAN 10) yaitu tentang  masalah kenakalan remaja serta usulan dari Rois Fajrul Farah (SMA Muhammadiyah 1 Semarang) dan MM Wida Widuri (SMA Kolese Loyola) tentang kreatifitas dan inovasi dalam proses belajar terutama dengan model daring.