Universitas Semarang

Berkat Kiprah Prof Muladi, USM Semakin Maju

Saiful Hadi | 04 January 2021

SEMARANG- Prof Dr H Muladi SH merupakan sosok seorang guru dan panutan bagi civitas akademika Universitas Semarang (USM). Kiprah dan sepak terjangnya dalam membesarkan USM sejak berdiri tahun 1987  tak bisa diabaikan. 
          
          Sebagai seorang pendiri USM dia sangat intens dan peduli terhadap perkembangan universitas tersebut, bahkan pada akhir 2019 membidani pembangunan Menara USM 10 lantai dengan 1 semi bassment yang kini menjadi kebanggaan USM dan masyarakat Jawa Tengah. Dalam waktu dekat, menurut rencana Menara USM akan diresmikan  oleh Menkopolhukam Mahfud MD.
 
Beliau berpesan Menara USM harus menjadi gedung yang smart building, green building, dilengkapi dengan perpustakaan ilmiah berstandar nasional sebagai jantungnya universitas, serta penataan kampus USM yang memenuhi AMDAL lingkungan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai yang ditetapkan Walikota Semarang.
          
          Berkat kiprah Prof Muladi, USM bergerak semakin maju, dan kini berkembang menjadi kampus yang unggul dan berkeindonesiaan.

          Berbagai amanah diembannya dengan baik, mulai dari kepercayaan sebagai Rektor Undip, Menteri Kehakiman, Mensesneg, Hakim Agung, Komnas HAM, Gubernur Lemhannas, hingga menjadi Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip sebagai Badan Penyelenggara USM. Dialah yang mendorong para dosen USM untuk meraih gelar doktor dan profesor demi kemajuan USM.

          Mantan Menteri Kehakiman ini sangat produktif dalam menulis berbagai karya ilmiah dan ilmiah populer. Buku-buku dan ratusan artikel telah dipublikasikan. Karya terakhir Prof Muladi adalah Empat Dekade Mengawal KUHP Nasional yang diterbitkan oleh Universitas Semarang Press pada Mei 2020, serta artikel di koran Warta USM edisi Desember 2020 dengan judul “Pancasila dan Universalitas HAM” dalam rangka menyambut Hari HAM Internasional.

           Banyak catatan menarik saat Muladi menjabat sebagai Rektor Undip. Salah seorang mantan aktivis mahasiswa, Nur Hidayat Sardini (NHS) menceritakan dalam laman facebook-nya mengenang Prof Muladi yang wafat pada 31 Desember 2020. 

          NHS menulis kisah 1994 lalu. Prof Muladi ketika itu menanyakan, “Siapa di antara kalian yang namanya Nur Hidayat Sardini?”. Tulis NHS, ucapan beliau itu masih saya ingat dengan jelas, dalam forum perkenalan Rektor Prof Muladi yang 13 April 1994 dilantik Mendikbud Wardiman Djodjonegoro, awal-awal tahun 1994. Waktu itu beliau mengumpulkan para fungsionaris lembaga kemahasiswaan di lingkungan Undip. Saya berada di sebelah Ketua Senat Mahasiswa Undip, yang juga Ketua Senat paling legendaris: Sdr Teuku Syahrul Anshari. Di Senat Mahasiswa itu, saya menjabat Ketua Komisi A Bidang Penalaran Mahasiswa.

          “Saya, Prof!” acung saya, agak ragu. “Saya sudah baca artikelmu di harian Suara Merdeka pagi tadi. Mari, kita sama-sama bangun Undip, supaya makin berkibar. Saya ingin membuktikan, artikelmu tidak seperti dalam faktanya,” begitu kira-kira. Lalu, seluruh yang hadir, para aktivis kampus, menatap saya dengan tajam. Saya agak kikuk, bercampur khawatir, plus sedikit takut. Dan, memanglah pagi itu saya baca artikel yang saya kirim ke Suara Merdeka, dimuat di kolom Kampus. Judulnya, “Undip dan Bayang-Bayang Kekuasaan”.

          Bagi saya, Undip adalah bentuk ketundukan, dan pembebekan di bawah rezim. Sebagai aktivis pers mahasiswa, saya melihat hal demikian tidaklah boleh -- jika tidak sebagai harapan. Kampus tetaplah independen. Paling kurang tetap kritis, termasuk kepada penguasa. Dengan potensi daya nalar dan konsepsional serta teoretis, kampus mestinya berada di tengah-tengah potensi masyarakat, dan selalu menyuarakan kebenaran. Apa pun keadaan dan risikonya.

          Dalam artikel itu, saya panjang-lebar menguraikan bagaimana posisi Undip di tengah-tengah rezim represif Orde Baru. Saya contoh bagaimana, misalnya, majalah mahasiswa Fisip Undip, yang saya menjadi pemimpin redaksinya, diblok warna hitam, oleh sebab memuat kover sang penguasa Orde Baru, mengangkangi gedung parlemen dengan sepatu larsnya. Judul waktu itu: “Dwi Fungsi ABRI Inkonstitusional?” Dalam edisi itu juga dimuat wawancara kami dengan sejumlah tokoh oposan seperti sastrawan Pramudya Ananta Toer, Arief Budiman, HJC Princen, Ali Sadikin, dan beberapa tokoh kritis lainnya. Nah, tampaknya, mungkin, melalui artikel itu, “Rektor baru Prof Muladi sedang saya tantang.”

          Prof Muladi membuktikan kata-katanya. Beberapa pekan setelah dilantik, Prof Muladi mengizinkan usulan kami terkait acara yang saya tangani. Setelah diputuskan di Rapat Pleno Senat Mahasiswa (Sema) Undip, kami menghadap beliau. Ketua Sema sampaikan rangkaian program selama jabatan kami. “Dalam waktu dekat, kami akan menggelar seminar nasional, yang menghadirkan beberapa tokoh. Mohon persetujuan, Prof,” kata Ketua Sema Undip, yang asli Aceh ini, kira-kira begitu yang saya ingat.

          Rektor menanggapi. Kata beliau, kampus ini tempat semua pemikiran bertemu. “Tapi saya menyaratkan, orang luar dan orang kampus harus dipadukan, supaya ada sudut pandang yang tidak tunggal. Jika nanti Arief Budiman dan Emha Ainun Nadjib bersedia, saya akan padukan dengan orang kampus yang memiliki pemikiran netral, dari dalam kampus. Dan, supaya tidak jadi ajang yang tidak produktif, saya sendiri yang akan jadi moderatornya,” kata Rektor Undip, Prof Muladi. Kami girang, setengah tak percaya, karena sebelum menghadap beliau pun, kami sempat ragu-ragu. Tapi, bismillah saja.

          Dan benarlah, Arief Budiman dan Emha Ainun Nadjib bersedia hadir memenuhi undangan kami. Pada mulanya, keduanya, meragukan izin rektor. Saya sendiri memimpin tim untuk “menjemput” Cak Nun -- sapaan Emha Ainun Nadjib, dan saya bahkan bermalam di rumah Cak Nur -- kalau tidak salah di Patangpuluhan, Yogyakarta, sedangkan tim lainnya ke Pak Arief Budiman, di kawasan Kemiri, Salatiga. Keraguan mereka bukannya tanpa alasan. Kami memakluminya saja. Ketua Sema meyakinkan dan memberi semangat kami. Kami tahu, pada masa-masa itu, kampus adalah bentuk lain dari lingkungan yang tidak juga steril dari kepentingan kekuasaan. Kami akhirnya berhasil meyakinkan kepada Cak Nun dan Pak Arief.

          Tiba saatnya, forum seminar nasional digelar di Ruang Notariat, Fakultas Hukum, kampus Undip. Seisi ruangan acara alih-alih angker, justru penuh dengan gelak tawa. “Ini Rektor Undip gila benar, memberi kesempatan kepada saya untuk bicara di kampus yang dikenal Orde Baru ini?” begitu Pak Arief Budiman, dalam satu-dua potong bahasannya. ”Ini Rektor edan tenan, lha saya orang jalanan, yang tak punya tempat di kampus, diundang rektor ini,” kata Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib, dalam beberapa potong kalimat yang saya ingat. Acara ini menyedot pemberitaan lokal dan nasional. Seluruhnya disambut gelak tawa, gayeng, dan tentu saja hidup.

          Sejak itu acara-acara yang diprogram Senat kami, terbiasa menghadirkan orang-orang kritis. Di bawah kepemimpinan Rektor Muladi, kampus jadi tempat bertemunya banyak orang, dengan gagasan kritik dan seimbang. Yang semula Prof Muladi bahkan jadi moderatornya, malah kemudian jadi pembicara dengan debat-debat yang hidup dengan para pembicaranya. Beliau selalu ingin menempatkan audiens, yang sebagian besar para mahasiswa, supaya memeroleh gagasan secara berimbang dalam melihat suatu isu. “Rugi jika mahasiswa tidak terbekali nalar kritis, namun dengan prinsip koridor Tri Darma Perguruan Tinggi.”

          Dalam bagian lain, Rektor juga membuka keran keterbukaan. Sebagai contoh, program Sema menggelar dialog antara Rektor dan mahasiswa, digelar setiap bulan di forum terbuka. Setiap mahasiswa, boleh menyampaikan apa saja aspirasi, baik mengenai persoalan di dalam kampus, seperti kesulitan SPP dan kesulitan membayar kos, langsung dieksekusi dengan memerintahkan para pembantu rektor untuk segera menindaklanjuti jalan ke luarnya, maupun aspirasi politik tentang isu nasional, regional, dan lokal, dijawab dengan baik dan memuaskan untuk hadirin.

          Prof Muladi berhasil mengikis rumor-rumor mengenai kampus yang dipimpinnya. Saya tahu bahwa beliau memberi atau lebih tepatnya dalam menjaga keseimbangan. Di satu sisi memisikan kampus dengan tetap mengedepankan daya nalar kritis di depan kekuasaan, dan di sisi yang lain menjaga hubungan baik dengan kekuasaan. 

          Dalam banyak kesempatan beliau ungkapkan, “Kampus adalah jantungnya daya nalar, daya kritis, dan tempat tersisa dari dunia luar yang mungkin sudah tumpul”. Dalam suatu kesempatan lain, beliau nyatakan, “Untuk apa Undip ini jika tanpa memberi manfaat kepada lingkungan?” Begitulah!

          Kisah yang diulas kembali oleh NHS di facebook-nya, menurut saya, memberi gambaran tentang sikap, karakter, dan personalitas akademik seorang Prof Muladi. Dengan karakter yang sama, dia menjadi pusat dari gagasan dan pemikiran untuk memajukan USM.
          
          Selamat jalan, Prof Muladi. Kami jaga inspirasimu...